Kondisi bangsa yang kian hari kian terpuruk karena masalah
yang tidak pernah diselesaikan secara sungguh-sungguh dan hal tersebut
dikarnakan banyaknya unsur kepentingan dari segelintir orang yang tidak
bertanggung jawab, sehingga permasalahan-permasalahan itu membuat rakyat
semakin sengsara dan menderita secara ekonomi, sosial, budaya bahkan secara
politik pun, hak rakyat dirampas dengan pembodohan-pembodohan yang menyesatkan.
Berdasarkan kondisi tersebut diatas kami, Liga Mahasiswa Nasional
Untuk Demokrasi (LMND) yang sadar bahwa harus ada perombakan terhadap
sistem yang menindas hak-hak rakyat, guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang
demokratis, berkeadilan sosial dan berkedaulatan rakyat. LMND merasa perlu
untuk bekerja sama dengan semua kelompok/organisasi yang anti penindasan dan
kami merasa sangat perlu untuk menjalin solidaritas dan kerjasama. Karena suatu
kesadaran yang sangat rasional dan obyektif bahwa kami tidak akan pernah mampu
untuk berjuang sendirian dalam memenangkan tujuan perjuangan terhadap sistim
yang menindas ini. Perjuangan sendiri hanya mencapai suatu kemenangan yang
minimal, artinya ketika suatu kelompok berjuang sendiri (sektarian), maka hasil
yang dicapai hanya untuk kepentingan subyektif kelompoknya. Akan tetapi bila
perjuangan itu didukung oleh banyak pihak, maka kemungkinan memenangkan
perjuangan sangat besar. Karena perjuangan ini menyangkut kepentingan banyak
pihak dan elemen dalam masyarakat.
LMND sebagai organisasi yang bersifat terbuka, mengajak seluruh
organisasi/kelompok untuk bergabung bersama kami dalam menuntaskan perjuangan
melawan penindasan dalam bentuk apapun. Berikut ini sekelumit tentang
organisasi LMND
Sejarah Organisasi
LMND berdiri tanggal 11 Juli 1999 di Bogor dalam Kongres Mahasiswa
tingkat Nasional 9-11 Juli 1999, yang dihadiri oleh 19 organisasi dari berbagai
kota di Indonesia. LMND berdiri atas suatu kebutuhan akan kepemimpinan secara
nasional suatu organisasi dimana ada kesatuan gerak dalam merespon situasi
nasional secara bersama-sama dan masif. Beberapa organisasi mahasiswa tersebut
berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang Surabaya dan
Purwokerto. Sepakat untuk membentuk organisasi tingkat Nasional dan pada 5
Februari 1999 di Bandung, maka terbentuklah FONDASI (Front Nasional Untuk Demokrasi). Momentum Rembug Mahasiswa
Nasional Indonesia (RMNI) di Bali pada tanggal 28 Maret – 5 April 1999 yang
dimana dihadiri oleh 53 organisasi mahasiswa dari seluruh Indonesia (termasuk
organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Fondasi), dan dilanjutkan dengan RMNI
II tanggal 8 Mei –11 Mei 1999 di Surabaya. Kemudian mengalami penurunan jumlah peserta yaitu, 32
organisasi. Ternyata saat itu Rembug tersebut tidak berhasil membentuk
organisasi mahasiswa dengan kepemimpinan nasional, dan RMNI II ini pecah
menjadi 2 yakni, yang sepakat menggunakan issue pemilu 1999 dan yang tidak
sepakat menggunakan issue pemilu 1999. Karena prioritas pertama yang harus
dibangun adalah konsolidasi antar organisasi, maka organ-organ yang sepakat
dengan issue pemilu dengan dipelopori oleh anggota-anggota Fondasi, kemudian
melakukan konsolidasi untuk semakin memperketat koordinasi dengan saling
memberitahukan melalui email dan melakukan koordinasi lanjutan. Perjuangan
demokrasi adalah sebuah proses sosial yang penting untuk masyarakat Indonesia.
Jatuhnya Soeharto di Mei 1998 jelas adalah salah satu batu loncatannya. Seperti
yang kita ketahui, gerakan mahasiswa menjadi salah satu tulang punggung
perjuangan melawan kediktatoran Orde Baru. Sepanjang 1998-1999 sangat terlihat
begitu banyak aksi-aksi mahasiswa, dengan ribuan sampai jutaan massa rakyat
mencoba menghantam satu per satu pilar kekuasaan Orde Baru.Tapi, demokrasi yang
mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial yang sejati belum terwujud.
Gerakan Mahasiswa
Kerakyatan memang tak luput dari kelemahan. Salah satunya adalah persoalan
perjuangan yang terus berkelanjutan. Organisasi, mau tidak mau, menjadi masalah
yang penting. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memperkuat diri gerakan ini.
Mulai dari Rembuk Mahasiswa Nasional Indonesia atau RMNI I di Bali pada Maret
1999, RMNI II di Surabaya pada Mei 1999, ataupun front-front perjuangan
mahasiswa secara nasional yang berdiri dan bubar sepanjang 1998-2001.
Sejak jatuhnya Soeharto, beberapa komite aksi menyadari kebutuhan
sebuah organisasi perjuangan yang bergerak secara nasional, menyatukan
perlawanan mahasiswa bersama rakyat dengan sistematis dan terprogram. Dimulai
dengan pendirian Front Nasional untuk Reformasi Total (FNRT) pada pertengahan
Mei 1998, 11 komite aksi dari 10 kota (termasuk Mahasiswa Timor Leste) mencoba
mengatasi persoalan gerakan secara nasional. Usia FNRT tidak
lama. Pada pertengahan 1998, FNRT bubar dengan sendirinya. Tapi komite-komite
yang pernah bergabung di dalamnya mencoba membentuk lagi sebuah organisasi
nasional, Aliansi Demokratik (ALDEM) pada Agustus 1998. Mereka berhasil
menerbitkan sebuah majalah “ALDEM” satu kali dan upaya menggalang aksi nasional
pada tanggal 14 September dengan isu Cabut Dwifungsi ABRI. Malang, nasibnya tak
jauh dengan FNRT. Putus koordinasi menjelang Sidang Istimewa 1998 maka dari 20 komite aksi
mahasiswa-rakyat, 19 di antaranya sepakat untuk membentuk sebuah organisasi
nasional demi terwujudnya kesatuan perjuangan gerakan secara nasional.
Organisasi tersebut bernama Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, disingkat
LMND (bisa dibaca “elemende”), yang di sepakati pada Kongres I di Bogor pada tanggal 9-11 juli 1999 dan merupakan hasil dari koordinasi yang dilakukan oleh sebagian besar peserta RMNI II yang berlangsung
.






0 komentar:
Posting Komentar